Beli Lahan Secara Sah, Deni Gunarja Malah Dipidanakan Pengembang Sentul City

B-CHANNEL, SENTUL – Dituduh menjual tanah milik Sentul City seluas 2 hektar di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, aktivis pembela warga, Deni Gunarja di pidanakan oleh pihak Sentul City ke meja hijau persidangan. Kasus yang penuh kejanggalan dan terkesan dibuat-buat ini pun menuai kecurigaan serta pertanyaan dari berbagai pihak yang mengendus adanya permainan uang dan motif lain dibalik perkara ini.

Perkara yang kini ditangani Pengadilan Negeri (PN) Cibinong ini, bahkan telah memasuki sidang ke-13 dengan telah menghadirkan 23 saksi untuk mengungkap perkara tersebut. Anehnya, jalannya sidang perkara digelar hampir setiap hari dan kuasa hukum Deni Gunarja hanya diberi waktu satu hari untuk membuat pledoi atau nota pembelaan. Tak hanya itu, terhitung sudah dua kali hakim diganti untuk memimpin jalannya sidang ini.

“Jalannya persidangan ini sangat janggal. Terkesan dipaksakan dan diburu-buru. Masa sidang setiap hari. Penetapan Deni sebagai tersangka juga janggal. Orang Sentul City yang ikut terlibat dalam penjualan tidak dijadikan tersangka. Ini kan aneh. Saya akan melaporkan masalah ini ke komisi kejaksaan. Karena pihak keluarga terdakwa ingin proses hukum ini berjalan adil,” ujar Lava Sembada selaku kuasa hukum Deni Gunarja, Rabu (13/12/17).

Lava menjelaskan, kasus ini bermula dari pembelian lahan milik Purnaman atau Epuh di blok Rahong Desa Bojongkoneng seluas 7.500 meter persegi dengan bukti kepemilikan berupa Akta Jual Beli (AJB). Kronologi persoalan, Oji dan Eman selaku pengamanan (PAM) lahan Sentul City menawarkan lahan kepada Deni seluas 7.500 meter persegi dengan harga Rp 65 ribu per meter yang diketahui milik Epuh. Sebelum dibeli oleh terdakwa, Oji dan Eman telah memastikan dan menyakinkan bahwa lahan tersebut aman dan tidak bermasalah.

Berdasarkan keterangan itu, Deni menyetujui dan kemudian membeli lahan tersebut dengan harga Rp 550 juta. Memanfaatkan persetujuan itu, Eman ikut menjual lahan miliknya seluas 600 meter. Sehingga luas lahan yang dibeli Deni bertambah dari 7.500 meter menjadi 8.100 meter persegi. Jual beli lahan itupun langsung dibuatkan akta dihadapan notaris dengan saksi Acep Supriatna selaku Kepala Desa Bojongkoneng yang turut membantunya mengeluarkan surat keterangan riwayat tanah dan surat keterangan tidak sengketa yang menjadi syarat pembuatan AJB. Secara sah kepemilikan lahan berpindah jadi milik Deni.

Pada pertengahan 2014, sambung Lava, Deni menjual kembali tanah tersebut kepada Sabena Bety seharga Rp 750 juta. Setelah proses jual beli selesai, tiba-tiba pihak Sentul City selaku pengembang mengklaim kepemilikan tanah tersebut dan melaporkan Deni ke Polda Jabar dengan tuduhan telah menjual tanah seluas 2 hektar serta merugikan pihak pengembang sebesar Rp 34 miliar. Bahkan, Deni dituduh memalsukan keterangan dalam Akta.

“Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), dasar melaporkan Deni adalah pihak Sentul City memiliki sertifikat lahan seluas 2 hektar dan mengaku dirugikan sebesar Rp 34 miliar. Menurut kami dasar yang dituangkan dalam BAP itu tidak jelas dasarnya apa. Kalau merasa dirugikan, dari sisi mana dirugikannya? Katanya dia (Sentul City, red) punya sertifikat, lahan juga masih dikuasai dia. Kok malah mengkriminalisasikan orang lain, dan lebih anehnya lagi, Eman dan Oji yang notabenenya orang PAM Sentul City dan ikut menjual tidak ikut jadi tersangka. Ini sudah suatu kejanggalan,” ujarnya.

Lava melanjutkan, seharusnya pihak Sentul City melakukan gugatan perdata dulu. Harus ditanyakan bagaimana Sentul City bisa tiba-tiba memiliki sertifikat, dasarnya darimana, kapan proses pembebasannya, beberkan biar jelas.

“Saya hanya mohon keadilan, karena yang dituduhkan kepada terdakwa itu tidak benar karena kita punya dasar, saksi dan juga buktinya. Kami juga sudah mengajukan untuk penangguhan penahanan ke Kejati, Kejaksaan dan Pengadilan, namun semua ditolak,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, kasus ini mendapat dukungan dari DPC Pro Jokowi (Projo) Kota Bogor. “Kami dari Projo akan mendampingi Pak Deni dan akan terus memantau kelanjutan kasusnya,” kata Ketua DPC Projo Kota Bogor, Dadi.

 

Reporter: Andi
Foto: istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: