Mengikuti Arus Pasar Milenials

B-CHANNEL, BOOGOR– Digitalisasi menggerus eksistensi industri media cetak di Indonesia. Membuka tahun Anjing Tanah ini, majalah musik Rolling Stone memutuskan berhenti memproduksi cetak. Selain majalah ini, media-media cetak lain seperti koran dan tabloid mingguan di Indonesia juga tak berdaya menghadapi gempuran digitalisaai. Tak sedikit media-media yang “mati cetak” ini kemudian mengikuti trend digital yakni memproduksi berita dengan format online.

Faktor utama yang membuat tren bisnis media cetak lesu adalah semakin banyaknya media online yang bermunculan dengan kualitas dan tampilan yang tidak kalah atraktif dengan media cetak. Faktor kedua yakni ongkos operasional percetakan yang tak sedikit. Sebagai praktisi media cetak, saya pribadi memaklumi kondisi ini. Tak sedikit miliaran rupiah, kami “bakar” untuk memuaskan keinginan pembaca.

Namun, ekspektasi mendulang pemasukan dari iklan dan penjualan oplah ternyata tak seimbang, bahkan kurva keuangan terus mengalami defisit (minus) yang pada akhirnya membuat kami memutuskan berhenti beredar di lapak asongan. Persoalan lainnya, adalah minimnya klien iklan yang kian lesu untuk mengiklankan produk di media cetak. Kondisi ini membuat pengusaha media cetak pada umumnya, dibikin mumet. Belum lagi dengan harga kertas yang kian hari tak mengenal kompromi. Beban pengusaha media cetak semakin besar dengan permintaan karyawan yang menginginkan gajinya naik setiap tahun seiring dengan naiknya barang-barang.

Survei Nielsen Indonesia menyebut pada Januari-September 2017, jumlah belanja iklan media cetak Rp 21,8 triliun, berkurang 13% dibanding periode yang sama pada 2013 yakni Rp 25 triliun.

Selain itu, produsen media cetak juga berkurang sebesar 23%. Nielsen mencatat ada 268 media cetak pada 2013, namun merosot tajam menjadi hanya 192 media hingga November 2017. Namun, angka itu dipengaruhi oleh penurunan jumlah produsen tabloid dan majalah yang berkurang sebanyak 92 unit.

Hal lain yang saya analisa adalah kian massifnya aktualisasi diri generasi millenials jaman now yang terbentuk lewat sosial media, tidak lagi melalui media cetak. Kecenderungan lainnya adalah, model komunikasi media cetak kurang diminati karena tak bisa berinteraksi secara langsung. Sementara melalui sosial media dan media online, pembaca berita yang didominasi generasi millenial lebih bisa berinteraksi dengan sesama, menanggapi berita-berita yang tayang tiap menitnya. Bahkan tak sedikit artis yang berani menyapa penggemarnya melalui video unggahan di media online. Kondisi ini tentu kian memantik eksistensi media cetak.

Nielsen Indonesia menyebutkan masyarakat yang membaca media cetak didominasi oleh orang-orang berusia 20-49 tahun dengan porsi sebanyak 73%. Hanya 10% anak muda berusia 10-19 tahun yang mengakses media cetak sebagai sumber informasinya. Sebaliknya, sebanyak 17% anak muda memperoleh informasi lewat internet. Sehingga, generasi muda merupakan sasaran pasar di masa depan. Ini adalah tantangan para pengusaha-pengusaha media digital, siapkah menghadapi permintaan pasar? atau mati eksis karena tidak mampu memuaskan generasi millenial. Salam Millenial!

Penulis:
Yuska Apitya Aji Iswanto S.Sos
Analis dan Praktisi Media Massa/ Alumni BEM Universitas Diponegoro Semarang 2006/ Alumni HMI Badko Jateng-DIY/ Pegiat Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Pamulang (Unpam) Tangerang Selatan.***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: