PILKADA: Percuma Purcashing Power Tinggi Bila Dipimpin Jarkoni

B-CHANNEL– Kini Purchasing Power, begitu seringnya didengung-dengungkan mereka, para penyelenggara pemerintah mulai dari ketua Rukun Tetangga di sebelah hingga top pejabat, RI 1.

Purchasing Power seolah kata yang jika diucapkan dalam sambutan atau pidato, serasa membawa citra sang pemberi sambutannya beberapa level lebih tinggi dari awam.

Purchasing Power, bila diurai kata perkata, berasal dari kata to purchase = membeli & power= Kekuatan atau Daya. Diperoleh definisi bahwa Purchasing Power adalah Kekuatan Seseorang dalam melakukan pembelian. Dalam bahasa kita menjadi Daya Beli.

Apabila kita ingin membicarakannya lebih “dalam” maka Daya beli seseorang ini ditentukan oleh Pendapatan seseorang itu sendiri. Dengan kata lain, apabila Daya Beli ingin meningkat maka tingkatkanlah pendapatan.

Sedangkan pendapatan itu sendiri ditentukan oleh gaji atau uang yang dibawa ke rumah (bagi karyawan), dan keuntungan seseorang (bagi yang berdagang). Lalu bagaimana seseorang itu ingin meningkatkan gaji atau keuntungan?

Secara pakem ekonomi, yang bersangkutan harus memperbanyak wawasan serta mengasah ketrampilan. Namun kedua itu tidak akan berdayaguna apabila pemilik kedua itu, yakni si manusianya itu sendiri bersikap mental egosentrisme (berfokus kepada diri sendiri).-atau lazim dalam bahasa akademisnya disebut tidak attitude_(tidak berorientasi membahagiakan orang lain).

Jaman now , untuk meningkatkan wawasan itu relatif sangat mudah, melalui gadget berinternet lalu surfing ke url url tertentu di dunia maya, maka kita dapat men top up wawasan kita seluas luasnya. Dan upaya untuk meningkatkan Ketrampilan, kini tersedia bahan bahan untuk pilihan ketrampilan apapun. Ketiga itu, wawasan, keahlian & attitude lazim dikenal dengan istilah Kompetensi.

Namun tidak demikian halnya dengan Sikap Mental atau attitude, upaya meningkatnya tidak semudah wawasan dan ketrampilan. Mengapa? karena ini sangat berkaitan dengan cara seseorang itu memandang manusia lain. Attitude ideal itu ter driven atau terdongkrak oleh mindset untuk atau membahagiakan orang,

Menurut para pakar Pemasaran, Mindset yang diperlukan sekarang ini, mindset yang menganggap orang lain itu adalah obyek yang harus dipuaskan atau dilayani, alias mindset yang orientasi kepuasan konsumen.

Kembali ke Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak ini, para kontestan bahkan dari sebelum mereka terdaftar di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD)pun sudah banyak yang jualan dan “berkampanye” akan meningkatkan daya beli masyarakatnya apabila kelak terpilih.

Berdasar uraian tadi, peningkatan Daya Beli akan menjadi “janji janji tinggal janji”, apabila kontestan Pilkada hanya menjanjikan peningkatan Daya Beli saja, tanpa disertai upaya agar mindset rakyatnya berubah fokus dari fokus diri menjadi fokus untuk membahagiakan orang lain. Pemimpin itu harus bisa menyadarkan masyarakatnya untuk bersyukur merasa berkecukupan & tidak serakah serta tahu mana hak dan bukan haknya. Karena tidak mungkin Daya Beli meningkat tanpa pengembangan kompetensi.

Ringkas kata, pilihlah pemimpin yang tidak JARKONI (iso uJAR ora iso ngelaKONI alias Omong Doang). Jadi, apabila di Pilkada ini ada yang jualan Purcasing Power lagi, lihat track record_nya, apakah tipe Jarkoni atau tipe pemimpin transformatif yang merangsang masyarakat dan memberi tahu cara meningkatkan kompetensi berujung peningkatan daya beli, dengan keteladanannya.

Apabila tidak ada satupun kontestan yang memiliki Kepemimpinan Transformatif, maka yang patut disalahkan adalah sistem penjaringan kontestan pemilunya, mengapa tidak menjaring mereka yang memiliki kepemimpinan tersebut. Kalau seperti itu, Sepasca Pilkada, sebaiknya keefektifitasan Pemilu Langsung (Pilsung) ini harus ditinjau kembali.

Akhirnya, melalui Pilkada serentak ini mari kita cari pemimpin yang tidak Jarkoni. Pilihlah atas dasar kinerja dan track record nya yang benar benar orientasi kepada kemajuan pola pikir masyarakatnya juga. Sehingga ketika kontestan Pilkada itu terpilih menjadi Kepala Daerah, maka Peningkatan Daya Beli pun bisa dia mewujudkannya kelak. Dalam kondisi ini, masyarakat sudah berada di gerbang Kemakmurannya.

Penulis oleh:

Dr. Kun Nurachadijat/Ekonomi Iluni UI/Praktisi Pengembangan SDM dan Pengamat Pendidikan Universitas Pakuan

-Kepala Litbang Pengurus Pusat Purna Paskibraka Indonesia/KB FKPPI.Sekjen DPP Parfi/Visi Merah Putih Founder.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: