Polresta Bogor Kota Ungkap Peredaran Obat Keras

B-CHANNEL, KOTA BOGOR – Peredaran obat keras di wilayah Kota Bogor semakin marak. Dalam pengungkapan pihak Polresta Bogor Kota, sejumlah obat keras yang marak beredar itu diantaranya, obat jenis Pil Hexymer, obat jenis pil Tramadol, dan obat jenis pil Trihexyphenidyl. Sasaran peredaran obat keras tersebut adalah kalangan menengah kebawah sampai pelajar yang menjadi sasaran utama para pengedar.

“Obat keras berjenis pil ini terus beredar, sasarannya ada pelajar, karyawan, sopir angkot, pengamen dan kalangan menengah kebawah lainnya. Pengaruh obat keras pil ini hampir sama dengan narkoba, bahkan harganya lebih murah,” ungkap Kapolres Bogor Kota, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya saat expose pengungkapan kasus narkoba di Mako Polresta Bogor Kota, Jalan Kapten Muslihat, Senin (25/9/17).

Ulung menjelaskan, penjualan obat keras dilakukan perorangan dengan sistem terputus tanpa jaringan. Karena harga obat keras yang dijual sangat murah yakni Rp 3000 per butir, sehingga banyak yang mengkonsumsinya, terutama kalangan menengah kebawah. Dalam dua minggu ini, Polresta Bogor Kota juga berhasil menangkap 11 orang tersangka pengedar narkotika berbagai jenis dari 8 kasus perkara. Bukan itu saja, sejumlah barang bukti berhasil diamankan dari para tangan tersangka, diantaranya, narkotika jenis sabu sabu seberat 16,5 gram, Pil Hexymer sebanyak 3698 butir, Pil Tramadol sebanyak 6912 butir dan obat jenis pil Trihexyphenidyl 894 butir.

“Kita telah menangkap 11 orang tersangka diantaranya para pengedar narkoba sabu sabu dan obat keras. Umumnya para pengedar obat keras sudah memiliki jaringan penjualan dengan sistem terputus kepada pembelinya. Kita juga masih memburu bandar besar dan pemasok-pemasok narkotika tersebut,” jelasnya.

Menurut Ulung, Kota Bogor sebagai Kota lintasan bisa mendapat pasokan narkotika dari daerah mana saja. Jumlah barang bukti yang diamankan apabila di uangkan diantaranya, untuk obat keras dari total 11.504 butir yaitu Rp 34 juta, sedangkan narkoba sabu sabu 36,5 gram sebesar Rp 73 juta. “Kita juga telah memberikan himbauan kepada toko-toko obat dan apotik agar tidak menjual obat secara sembarangan,” tandasnya.

Terkait masalah pil PCC, Ulung menambahkan, sampai saat ini di Kota Bogor belum ditemukan pil PCC, namun sejumlah obat keras yang didapat dari para tersangka memiliki kandungan yang sama seperti PCC. “Untuk pil PCC di Kota Bogor belum ada dan ditemukan, tapi kita awasi terus,” pungkasnya.

 

Reporter/Foto: Andi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: